Minggu, 29 Agustus 2010
Sabtu, 14 Agustus 2010
Mulia Gas Mandiri (MgM) Agen Antar Resmi blue gaz®

Mulia Gas Mandiri (MgM) Agen Antar Resmi blue gaz®
Mulia Gas Mandiri yang beralamat di Jl. Kaum Kidul No. 80 Cicurug Sukabumi merupakan agen antar resmi untuk produk isi ulang gas dan pemesanan suku cadang kompor buatan blue gaz®. Mulia Gas Mandiri berdiri sejak tahun 1998, serta resmi menjadi satu-satunya agen antar untuk produksi blue gaz® sejak tahun 2000 yang meliputi wilayah antar se kecamatan Cicurug.
Mengapa Menggunakan blue gaz® ?
blue gaz® pilihan Tepat dan Aman untuk Memasak
Fakta 1
Produk Berkualitas
- Memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Standar Eropa (EN)
- Tabung gas yang dirawat secara rutin
- Berat isi gas dijamin akurat
- Garansi Service seumur hidup
- Garansi Spare Part 1 tahun

Fakta 2
Regulator Unik & Aman
- Menggunakan drat ulir yang lebih aman untuk koneksi ke tabung
- Memiliki keamanan untuk anak-anak
- Menutup aliran gas jika ada kebocoran
Fakta 3
Paket Aman
- Produk Tabung Gas dan Kompor yang dibuat paket menjadi lebih aman dan nyaman
Fakta 4
Desain yang futuristik dan praktis
- Ukuran tabung yang pas dan praktis untuk diangkat dan ditata di dapur
- Kompor yang di desain futuristik dan menarik
Fakta 5
Customer Care Luar Biasa
- Layanan Customer Care meliputi edukasi pemakaian pemasangan, perawatan dan service melalui telephone, sms, email atau door to door.
TIPS AMAN
Pengunaan tabung dan kompor blue gaz®
1. Usahakan dapur mempunyai sirkulasi udara yang baik serta letakkan tabung dan kompor pada bidang datar.
2. Sebelum memasang/melepas regulator/kompor satu tungku dari tabung pastikan tidak ada sumber api di sekitarnya.
3. Pastikan bahwa kondisi bagian ulir regulator dan ulir di kompor satu tungku dalam keadaan bersih.
4. Pastikan tidak ada bagian segel yang tertinggal di katub tabung das sebelum pemasangan regulstor/kompor satu tungku.
5. Pastikan selang pada regulator dan pipa gas terpasang dengan benar dan kencangkan klem.
6. Untuk keamanan periksa secara berkala selang dan regulator, jika anda ragu silakan menghubungi Customer Care untuk pemeriksaan.
7. Selalu pasang carring plug pada tabung apabila regulator atau kompor satu tungku dilepas.
Jika Anda mencium adanya bau gas:
1. Buka pintu dan jendela selebar-lebarnya.
2. Jangan nyalakan kompor dan matikan peralatn listrik
3. Tutup knob regulator/knob kompor satu tungku dan lepaskan regulator/kompor
satu tungku dari tabun.
4. Tutup tabung dengan carrying plug.
5. Bawa tabung ke area terbuka
6. Hubungi pengecer atau Customer Care blue gaz® terdekat untuk penangan lebih lanjut.
MULIA GAS MANDIRI
Jl. Kaum Kidul No. 80 Cicurug, Sukabumi
Telp/SMS : 08159548391, 08990858223
Rabu, 04 Agustus 2010
Rabu, 28 Juli 2010
Senin, 26 Juli 2010
Sabtu, 10 Juli 2010
Memperbaiki Flashdisk yang Rusak

Ini ada cara atau tips untuk memperbaiki/membetulkan Flash Disk yang mati atau mengalami kerusakkan, memang untuk bisa memperbaiki flash disk gampang-gampang susah juga. Tanda-tanda Flash disk mati atau rusak biasanya kita yang kita hadapi/alami antara lain seperti ini :
• Saat flash disk tertancap di komputer win XP, sedang dipakai namun tiba-tiba windows hank alias frozen. Setelah komputer di booting paksa dan di hidupkan lagi, ternyata flash disk yang tertancap tadi mati. Falsh disk tidak bisa bekerja lagi. Windows mendeteksi kapasitasnya 0 MB dan mengeluarkan pesan untuk memformatnya. Dicoba untuk di format gagal juga. Akhirnya gak terpakai lagi deh itu Flash Disk kita...
• Kalau memang kasus seperti ini yang anda alami terhadap kerusakan flash disk anda. jangan khawatir kita masih bisa coba untuk menyelamatkan dan menghidupkanya lagi. Berikut ini langkah-langkah untuk memperbaikinya:
1. Softawre yang kita perlukan untuk keperluan ini adalah HP Drive Boot Utility (buatan HP namun jangan khawatir ternyata bisa kita gunakan untuk merek yang lainya. Bahkan untuk memory kamera juga). Anda bisa download di bawah disini
2. Setelah di download, jalankan dan pilih drive untuk falsh disk yang akan diperbaiki
3. Pilih tipe format disk yang mau di gunakan (FAT, FAT32 atau NTFS)
4. Pilih Quick Format
5. Kemudian pilih start untuk memulainya
Sayang software di atas support untuk OS Windows XP ke Bawah, saat ini saya sedang mencari software yang support untu Vista dan Windows 7...
Cara yang kedua bisa dilihat sebagai berikut:
Flash Disk mengalami
Write Protect
1. Masuk ke DOS
Prompt Windows XP
dan ketik CHKDSK /F
Drive letter :
contoh : chkdsk /f V:
2. Selesai memeriksa
dari Check Disk
(CHKDSK), coba anda
buang file yang ada
pada Flash Disk dengan
perintah Del drive
letter:*.*. Contoh pada
perintah membuang
file dari Flash Disk di
drive V: adalah DEL
V:*.*
3. Sekali lagi anda coba
format dengan
perintah Dos Promt.
Format V:
4. Atau gunakan cara
melalui Computer
Management dan lihat
volume drive V, dan
anda coba format. Bila
masih terdapat pesan
error lakukan boot
pada computer
Namun bila flash Disk
milik anda tidak bisa di
baca oleh komputer
karena virus
1. Start menu > run >
cmd > C:\Documents
and settings\nama
komputer anda
(ketiknya dari setelah
ini)>set DEVMGR_
SHOW_NONPRESENT_
DEVICES=1 tekan enter
2. C:\Documents and
settings\nama
komputer anda
(ketiknya dari setelah
ini)> set DEVMGR_
SHOW_DETAILS_
DEVICES=1 tekan enter
3. kan muncul lagi path
C:\Documents and
settings\nama
komputer anda
(ketiknya dari setelah
ini)>devmgmt.msc
4. maka akan keluar
tampilan Device
Manager, selanjutnya
klik view > show hidden
device setelah itu buka
universal serial bus
controllers
5. klik kanan delete
semua usb yang ada,
kemudian scan for
hardware changes (cari
ikon kecil yang
gambarnya berupa
kaca pembesar)
6. buka storage
volumes, kemudian
delete yang gambarnya
seperti hidden (yang
tidak tampak hidden
jangan diapa-apakan
7. terakhir coba restart
lagi komputer Anda
SELAMAT MENCOBA SEMOGA BERHASIL......
Jumat, 25 Juni 2010
Kenangan Sidarto Danusubroto Dampingi Bung Karno di Ujung Kejatuhan

Sidarto Danusubroto adalah ajudan terakhir Bung Karno. Sehari setelah peringatan meninggalnya (haul) Bung Karno, 21 Juni lalu, dia menuturkan kembali pengalamannya mendampingi proklamator itu. Banyak cerita menarik yang belum terungkap.
Pandangan mata Sidarto Danusubroto menerawang ketika mulai bercerita mengenai sosok yang sangat dikaguminya itu, Soekarno. Pria 74 tahun tersebut tidak akan melupakan peristiwa yang dialami pada 10 Desember 1967.
Saat itu, Bung Karno memberinya sebuah buku berjudul Sukarno an Autobiography karya Cindy Adams. Sampul buku tersebut berwarna merah dengan foto Bung Karno yang berjas putih, berpeci, sambil tertawa lebar. Ketika memberikan buku itu, Bung Karno yang tengah berada di ujung kejatuhannya menyampaikan wejangan kepada Sidarto.
Bung Karno menyatakan bahwa dirinya bisa dikucilkan, dijauhkan dari keluarga, bahkan ditahan dan lama-lama akan mati sendiri. "Tetapi, catat ya To (Sidarto, Red), jiwa, ide, ideologi, dan semangat tak dapat dibunuh," ungkap Sidarto menirukan ucapan Bung Karno saat ditemui di kediamannya, Jalan Kemang Utara, Jakarta Selatan, Rabu (22/6).
Bung Karno mengutip kalimat yang diucapkannya itu dari filsuf Jerman, Freili Grath, yang dalam bahasa aslinya berbunyi, ’’Man totet den geist nicht”. Sidarto sempat tertegun mendengarnya. Secara spontan, dia lantas meminta Bung Karno untuk menuliskan ucapannya tersebut di halaman depan buku yang baru diterimanya.
"Waktu beliau bicara begitu, saya bilang, Pak (Soekarno, Red) tolong ditulis sekalian di situ. Maka, jadilah tulisan ini," ujar Sidarto sambil menunjukkan buku ’bersejarah' yang masih terawat baik itu.
Dengan nada bercanda, Sidarto menyatakan, coretan tangan Bung Karno itulah yang dijadikan salah satu materi kampanyenya saat pemilu legislatif lalu. Dia mencetak tulisan tersebut di panel baliho kampanyenya. Hebatnya, model kampanye itu manjur. Sidarto terpilih kembali menjadi anggota DPR dari PDIP untuk periode ketiga sejak 1999.
Alumnus Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Jakarta 1962 tersebut kembali terpilih dalam Pemilu 2009 dari dapil Jawa Barat VIII yang meliputi Kabupaten dan Kota Cirebon serta Kabupaten Indramayu. Meski sudah cukup umur, Sidarto masih terlihat bugar dan energik.
Dia memang berkesempatan dekat dengan Bung Karno. Sebab, sejak 6 Februari 1967, Sidarto yang kala itu berpangkat ajun komisaris besar polisi (AKBP) ditugasi menjadi ajudan Bung Karno. Dia menggantikan Kombespol Sumirat yang ditahan pasca-Supersemar. Surat keputusan pengangkatan Sidarto ditandatangani Bung Karno pada 22 Februari 1967.
Baru tiga bulan Sidarto menjalankan tugas, situasi politik nasional yang tengah memanas mencapai klimaksnya. Pada 12 Maret 1967, keluar TAP MPRS XXXIII/MPRS/1967 yang melucuti kekuasaan eksekutif Bung Karno. Melalui TAP itu juga Soeharto diangkat menjadi pejabat presiden.
Meski Soekarno sudah tidak mempunyai kekuasaan, Sidarto tetap tidak ditarik dari posisinya sebagai ajudan. Sewaktu menghadap pimpinan Polri, dia diperintah agar terus mendampingi Bung Karno. "Pemerintah memandang Bung Karno perlu didampingi ajudan. Jadi, saya melayani presiden yang ditahan," tuturnya.
Tetapi, untuk sementara, Soekarno yang diposisikan sebagai ’presiden nonaktif' masih diperbolehkan tinggal di Istana Merdeka. Sampai suatu hari, sekitar Mei 1967, Bung Karno yang didampingi Sidarto yang baru saja pulang dari jalan-jalan keliling Jakarta dicegat dan dilarang masuk istana. "Saya ingat, beliau habis nyate (makan satai, Red) sama saya di pinggir Pantai Cilincing," cerita Sidarto.
Karena tidak diperbolehkan masuk istana, Bung Karno langsung menuju kediaman Wisma Yaso (sekarang menjadi Museum Satria Mandala, Red) di Jalan Gatot Subroto. Karena mendadak, presiden pertama republik itu tidak sempat berkemas. ’’Barang-barang pribadi beliau sama sekali tidak bisa dibawa," ungkap mantan Kapolda Sumbagsel (1986-1988) tersebut.
Terusir dari istana juga berarti kehilangan fasilitas protokoler, termasuk sekretaris presiden. Karena itu, Sidarto kemudian mendapat tugas tambahan baru, yakni menjadi 'sekretaris' Bung Karno. "Jadi, saya sempat menjadi ajudan sekaligus sekretaris dadakan Bung Karno. Hasil ketikan saya ya kurang proporsional seperti ini," katanya sambil menunjukkan sejumlah copy surat yang masih disimpan dengan rapi.
Sejak meninggalkan istana, sebagian besar surat Bung Karno malah ditandatangani Sidarto. Misalnya, surat yang ditujukan kepada Pangdam VI Siliwangi Letkol Abas tertanggal 27 September 1967. Surat tersebut menginformasikan daftar nama para pekerja untuk penyelesaian rumah di Batu Tulis, Bogor.
Mengapa Bung Karno tidak menandatangani sendiri surat itu? ’’Ini kan soal teknis dan rutin dari presiden ke bawahan (Pangdam). Jadi, mungkin cukup ajudan saja yang menandatangani," jelas pria kelahiran Pandeglang, 11 Juni 1936, itu.
Menurut Sidarto, tak lama setelah meninggalkan Istana Merdeka, Bung Karno tak ubahnya tahanan kota. Untuk mobilitas Jakarta-Bogor saja, Bung Karno harus mendapat izin tertulis dari Pangdam VI Siliwangi dan Pangdam V Djayakarta. Nah, tugas mengurus perizinan itu dibebankan ke pundak Sidarto.
"Jadi, tugas saya bolak-balik mengurus exit permit dan entry permit. Jakarta-Bogor sudah kayak ke luar negeri saja,” ujar bapak lima anak itu sambil geleng-geleng kepala.
Pada pengujung Desember 1967, Bung Karno mulai berstatus tahanan rumah. Dia tidak boleh lagi meninggalkan Wisma Yaso. Bahkan, keluarga dan kerabat sulit menemui Bung Karno. Untuk membesuk Bung Karno, mereka harus mendapat izin lebih dahulu dari otoritas yang berwenang.
Dalam periode susah seperti itu, Sidarto kembali mendapat pengalaman yang tak terlupakan. "Saya disuruh ke sana-kemari mencari duit. Sebab, Bung Karno tidak pegang duit," katanya.
Menurut dia, Bung Karno memang seorang negarawan yang genius. Namun, soal keuangan pribadi, dia tak begitu memperhatikan. Karena itu, saat menjadi tahanan rumah, Bung Karno sering kehabisan uang pegangan maupun uang untuk biaya hidup sehari-hari.
’’Sewaktu disuruh mencari duit itulah, saya sempat bingung dari mana bisa memperolehnya. Sebab, orang-orang dekat Bung Karno sewaktu saya dekati malah lari semua. Mereka takut. Hanya satu-dua orang yang masih setia," ujar Sidarto yang kini duduk di Komisi I DPR tersebut.
Suatu ketika, Bung Karno meminta Sidarto menemui Tukimin, mantan pejabat rumah tangga Istana Merdeka. Tanpa kesulitan berarti, Sidarto berhasil mendapatkan USD10 ribu dari Tukimin.
Kesulitan justru terjadi saat hendak membawa uang itu ke Wisma Yaso. Sidarto takut digeledah penjaga, kemudian uangnya disita. Tak kehilangan akal, dia lalu memasukkan uang tersebut ke kaleng biskuit. Dia lantas menemui Megawati dan meminta putri Bung Karno itu membawakannya untuk Bung Karno.
"Mbak Mega yang bawa masuk. Mbak Mega kan bisa beralasan untuk mengunjungi ayahandanya," kenang Sidarto.
Pada 23 Maret 1968, turun surat resmi dari Markas Besar Angkatan Kepolisian (saat ini Mabes Polri, Red) yang berisi penarikan Sidarto dari posisinya selaku ajudan Bung Karno. "Saat kondisi kesehatan Bung Karno semakin lemah, fungsi ajudan semakin tidak diperlukan. Yang lebih dibutuhkan adalah dokter dan perawat. Saya lalu diminta Panglima Angkatan Kepolisian (saat ini disebut Kapolri, Red) Soetjipto Joedodihardjo untuk ditarik," jelasnya.
Meski dalam surat penarikan Sidarto masih disampaikan kemungkinan dikirimkan penggantinya, faktanya ajudan baru itu tidak pernah ada. Jadi, Sidarto tercatat sebagai ajudan terakhir Bung Karno.
Sumber: Radar Lampung
Langganan:
Postingan (Atom)
Beranda



