Social Icons

Pages

Selasa, 04 Januari 2011

Sekilas Mengulas Tulisan Leluhur/Karuhun




MENGULAS TULISAN KARUHUN
Oleh : H. Akbar Saefulloh & Moh. Sjafei

Tulisan merupakan buah pikiran yang dituangkan dalam goresan tangan atau alat mencurahkan sesuatu yang dirangkai dengan huruf dan bahasa sehingga menjadi kalimat yang merupakan informasi bagi orang lain. Jika tulisan telah berupa informasi menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kalangan umum, sehingga hasil tulisan itu menjadi alat informasi penting untuk diketahui materi maupun isinya. Namun tulisan yang dibuat dalam huruf tertentu menjadi keunikan tersendiri dan sangat memerlukan keahlian khusus pula untuk menguraikan pesan dalam tulisan itu. Oleh karenanya, penulis mencoba mengajak peminat budaya baca yang menyangkut tulisanSangkakala untuk menerawang sejenak apa yang ada didalamnya. Dipastikan penulis dengan huruf Sangkakala ini langka dan mungkin hanya satu-satunya di dunia ini yang memiliki keahlian menulis Sangkakala.


Batutulis yang berada di muara Ciaruteun, diyakini awal para Leluhur menulis pada batu.
Sangkakala atau Sasakala artinya asal, dipengaruhi dengan kurun waktu zaman, sehingga bahasa maupun tulisannya mengikuti budaya kepercayaan yang berkembang ketika zaman itu. Tulisan dalam huruf Sangkakala tersebut, banyak menyiratkan tentang Pajajaran Siliwangi. Mungkinkah tulisan tersebut, sebagai identitas Pajajaran Siliwangi?, entahlah. Oleh karena itu, dalam tulisan ini hanya disimak sebatas yang berkaitan erat dengan Pajajaran Siliwangi.

Sejatinya tulisan tersebut, memiliki keunikan tersendiri dari garis lekukan maupun bentuknya sehingga walau dibuat sesederhana mungkin akan tetapi memiliki arti yang mendalam dan memerlukan pemahaman secara seksama. Hal itulah yang dikatakan unik karena tidak semua orang dapat membaca, memahami dan mengerti arti tulisannya.

Batu Bertulis di Lemah Duhur Batutulis Bogor
Konon orang tua dahulu, mulai menulis diantaranya diilhami dari dzat alam. Nenek moyang banyak belajar diantaranya dari tumbuhan daun-daunan, dari buah duku, maupun dari ikal buah jahe. Contohnya, pada daun-daunan tanaman perdu maupunbuah duku. Memang pada dzat alam tersebut tidak terlihat jelas huruf yang digunakan sekarang, terlihat hanya lekukan sembarang sehingga terkesan abstrak oleh karena fenomena alam.


Tulisan Pada Daun

Namun apabila diperhatikan dengan seksama, pada dedaunan itu akan terlihat garis lekuk putih dan pada buah duku garisnya berwarna coklat. Mungkin ada pula pada tanaman lain yang belum ditemukan. Itulah rangkaian huruf dan ternyata bermakna.


Tulisan Sangkakala

Tulisan Sangkakala yang ada di Cipaku Bogor jika dicermati penuh dengan nilai estetika karena tata letak bentuk, tarikan garis yang disertai dengan warna warni indah mempesona. Tetapi bagi yang awam, merupakan kekaguman sekaligus bertanya-tanya karena lekuk dan goresan hurufnya bagaikan rangkaian penuh misteri. Tulisan pada seukuran manila karton ini ada sebanyak 20 buah dan telah dilengkapi dengan bingkai berkaca. Selain itu, tulisan Sangkakala ada juga berupa buku seukuran polio bergaris maupun buku setengah polio.

Pada tulisan-tulisan tersebut memang tidak nampak judul ataupun topik, hanya yang menulis saja yang tahu dan dapat menjelaskan tentang isi materi tulisannya. Namun ada juga di beberapa tulisan kaligrafi itu terdapat penjelasan singkat dalam bahasa latin yang terletak disisi pojok bingkai yang berbunyi : Sangiang Sungsang Tunggal,Sangiang Purbawangi dan Siliwangi. Dengan penjelasan singkat itu, minimal sedikit membantu untuk mengartikan bahwa yang tertera dalam tulisan tersebut mungkin bagian dari ceritanya.

Gambar ini nampak pada tulisannya terdapat bayang-bayang huruf S. Abjad S itu ternyata menguraikan tentang Solomon atau Nabi Sulaeman. Tulisan itu sepintas menceritakan tentang susunan keluarga Nabi Sulaeman dan tempat-tempat yang mengandung nilai-nilai sejarah semasa Nabi Sulaeman jumeneng.

Konon tulisan berbentuk wafak ini telah menjadi milik seseorang dari Negara Libanon. Sedangkan dalam bagian lainnya yang tersirat pada lembaran berbentuk wafak tertulis huruf S. Bayang-bayang huruf tersebut menunjukkan identitas nama Solomon, menurut siempunya mengisahkan tentang Solomon atau Nabi Sulaeman.

Bayang-bayang huruf S mengkisahkan tentang Solomon

Pada bagian lain, juga terdapat tentang Gurun Sinai (Gunung Nabi Musa), maupun tentang Sunan Gunung Jati Cirebon serta tentang tempat-tempat lainnya yang ada di dunia ini. Selain sejarah, ada pula isi materinya menceritakan tentang silsilah keturunan, doa, nasihat dan bahkan ada juga yang menceritakan tentang sifat-sifat “Karuhun”. Karuhun yang kami maksudkan adalah para leluhur yang menjadi nenek moyang Pajajaran Siliwangi.

Namun yang menarik dan menantang untuk diulas yaitu tentang penjelasan dari penulisnya, selalu menggunakan bahasa arab. Padahal secara global sebagaimana tulisan dari halaman ke halaman yang ada dalam buku, menguraikan tentang sejarah, nama tempat dan tentang silsilah keturunan manusia, tetapi jika diperlukan penjelasan rinci diuraikan dengan bahasa arab. Sehingga terkesan sangat kontras antara tulisan dengan penjelasan. Oleh karena itulah apabila memerlukan penjelasan dari materi tulisan, diperlukan menjadi pendengar yang baik dan harus sedikit memahami terjemah bahasa Arab.

Sekedar informasi pula bahwa tulisan tersebut ditulis dalam kurun waktu tertentu, hal itu tergantung “Leluhur/Karuhun” mana yang mau menulis dan sempatnya kapan ia mau. Sehingga seluruh tulisan itu tidak ditulis dalam waktu yang sama, tetapi ditulis secara berkala ada yang menulis tiap dua tahun sekali dan ada pula yang mau menoreh goresan tangannya setiap empat tahun sekali. Sedangkan pengerjaan tulisannya hanya memerlukan waktu yang tidak lama, ada yang hanya satu jam tetapi ada juga selama satu minggu. Mengenai karakter tulisannya pun beraneka ragam ada yang dengan hurup besar-besar, namun ada pula dengan huruf kecil dan halus.

Dimanapun kehendak menorehkan sejarah tidak mengenal waktu dan tempat

Sehingga hasilnya bisa diprediksi serta tulisan itu juga terkesan menunjukkan karakter penulisnya. Apabila hurufnya besar-besar menunjukkan karakter penulisnya pemarah, kasar dan galak. Tetapi apabila tulisan hurufnya kecil dan halus, dipastikan penulisnya berhati lemah lembut dan penyayang. Menurut pemilik tulisan Sangkakala ini, budaya mengalihkan riwayat ke atas kertas memiliki kesan tersendiri karena secara tidak langsung mempengaruhi sifat, sikap dan emosinya. Selain itu pula, dalam memulai kegiatan menulis Sangkakala ini tidak mudah dan melalui proses yang panjang dan melelahkan bagi penulisnya.

Sekitar pada tahun 1960, awalnya menulis menggunakan media sirih lengkap dengan gambir, kapur sirih dan bakau yang dikunyah. Setelah menghasilkan warna merah maka di tampung dalam piring sebagaimana layaknya tinta warna, kemudian cairan tadi digoreskan pada kertas. Sungguh pantastis.

Rumah Tempo Doeloe yang memiliki nilai sejarah bagi “orangtua” sebagai penulis

Sekedar informasi, bahwa penulis Sangkakala inipun ternyata mempunyai andil sumbang saran dalam pembangunan Tugu Monas Jakarta, Mesjid Istiqlal Jakarta, maupun Tugu Kujang di Bogor. Sumbang saran yang diberikan diantaranya menentukan lokasi tanah yang akan dibangun, waktu pelaksanaan maupun syarat lainnya secara spiritual.

Selanjutnya, marilah kita coba menyimak hasil tulisan Sangkakala. Tulisan ini diharapkan untuk menambah khasanah budaya daerah dalam upaya memperkokoh budaya nasional mengingat tulisan dan bahasa Sangkakala ini langka dan perlu dipelajari, dipahami, dilestarikan karena merupakan kreatifitas asli dari suku bangsa Sunda. Pada akhirnya nanti tulisan Sangkakala ini, berharap dapat diajukan kepada lembaga hak cipta nasional sebagai legalitas penulisnya.

Sejatinya tulisan Sangkakala ini memiliki pijakan dasar huruf Ha Na Ca Ra Ka. Disamping itu, memiliki keterkaitan dan kemiripan dengan tulisan yang ada pada prasasti batu peninggalan budaya prasejarah diantaranya yang ada seperti di Situs Batutulis Bogor, Situs Kebun Raya Bogor, Situs Ciareuteun, Situs Kebon Kopi dan Situs Pasir Jambu Koleangkak serta situs-situs lainnya yang menyebar diseantaro jagat Nusantara yang memiliki hubungan erat dengan Pajajaran Siliwangi. Sehingga kiranya tidak berlebihan jika tulisan Sangkakala ini mempunyai nilai khusus untuk dilestarikan oleh lembaga yang berkompeten.
Dalam mengungkap tulisan ini, seharusnya memerlukan bantuan kemampuan ahli dari kalangan tertentu karena obyeknya rumit dan memerlukan penelaahan mendalam dari segi huruf maupun penggunaan bahasa. Namun demikian, dengan kemampuan ala kadarnya marilah kita ungkap sekilas tulisan Sangkakala ini semoga dapat menjadi bahan informasi yang bermanfaat bagi peminat budaya dan sejarah.
Diawali dengan inventarisasi jumlah obyek berupa kaligrafi sebanyak 20 buah dan buku ukuran polio sebanyak 1 buku dan setengah polio sebanyak 7 buku. Untuk memudahkan pembahasan dari satu obyek ke obyek lainnya, kami beri tanda kode huruf, sedangkan pada halamannya diberi angka. Sehingga jika menunjukkan Buku Besar halaman 1, menjadi Bb-1. Pada buku setengah polio atau Buku Kecil, karena jumlahnya sebanyak 7 buah buku, maka pengkodeannya menjadi Bk 1 sampai dengan kode Bk 7. Jika pada Buku Kecil Nomor 1 halaman 1, akan terlihat Bk 1-1. Kemudian pada tulisan yang seperti kaligrafi, diberikan pengkodean mulai K-1 sampai K-20 sesuai dengan jumlah tulisan kaligrafi yang ada.

Huruf Ha Na Ca Ra Ka yang melatarbelakangi tulisan ini

Secara umum dalam buku Bb-1 yang berwarna merah itu, tulisannya mempunyai awalan Alif, Ba, Ta, Tsa dan seterusnya. Nampaknya huruf hijaiyah tersebut seperti nomenklatur yang akan dibahas kemudian, karena ternyata huruf Alif yang memulai cerita dalam halaman awal pembahasan buku itu. Kemudian huruf Ba, begitu juga uraiannya dan seterusnya. Selain itu, dalam penulisan pada tiap halaman dari ujung pinggir kiri sampai sisi kanan terisi penuh sepertinya penulis tidak memperdulikan batasan ruang.
Selain itu pula, tarikan tulisan ada yang vertical namun ada pula yang horizontal bahkan ada yang menoreh miring kalimatnya. Sedangkan suku kata huruf tersebut, ditulis dari atas kebawah atau sebaliknya, namun menurut penulisnya dapat terbaca secara terbalik sekalipun.

Pada kode K-1, terdapat goresan huruf yang melambangkan telapak tangan kiri. Hal ini menunjukkan bahwa yang dibahas dalam tulisan tersebut menceritakan tentang pemilik telapak tangan yang bernama Sangiang Tapak atau Sangiang Purba Prebu Agung.

Nampak Telapak Tangan kiri dan kanan yang menandakan jelas pemiliknya

Lahirnya pada saat Babad Lutung Kasarung. Sangiang Tapak adalah nama lain dari alias Siliwangi. Sejatinya, Sangiang Tapak adalah petualang yang ulung dan selalu meninggalkan jejak kaki dan batu bertulis. Sangiang Tapak selalu begitu pada setiap daerah yang pernah disinggahi dan sekarang menjadi situs yang terdapat dibeberapa daerah.
Terdapat penjelasan mengenai tulisan dengan topik mengenai Gurun Sinai atau Gunung Nabi Musa. Pada lembaran ini diceritakan tentang suasana gurun yang menjadi sejarah kejadian maupun silsilah keturunan Nabi Musa. Menurut informasi, apabila leluhur dari Gurun Sinai menulis di halaman buku ini dengan “Kekasih Al-Bahar dan dalam kesehariannya menetap disekitar lokasi yang terdapat curug air di negara Palestina.

Tulisan leluhur yang dibuat di Gunung Bentang

Pada bagian lain, mengulas tentang Masjidil Al-Aqso yang terdapat di Yerusalem. Seperti pada lembaran buku lainnya, penulis ini bernama “Al-Hajib Hamdani”. Leluhur dari negara yang tak henti-hentinya berkecamuk peperangan ini, seringkali menulis tentang sejarah dan keturunannya.

Terdapat beberapa huruf mirip seperti yang ada pada setiap prasasti Batu Bertulis
Pada tulisan diatas tersebut, terdapat kemiripan huruf sebagaimana yang tertera dalam Situs Batutulis Bogor, Situs Kebun Raya Bogor, Situs Ciareuteun, Situs Kebon Kopi dan Situs Pasir Jambu Koleangkak serta situs-situs lainnya yang menyebar di seantaro jagat Nusantara yang memiliki hubungan erat dengan Pajajaran Siliwangi.
Tetapi leluhur Pajajaran Siliwangi tidak hanya menyiratkan pada tulisannya tentang sejarah, doa, silsilah maupun rahasia alam lainnya, ternyata juga berkenan dan memperhatikan soal politik kenegaraan. Sebagaimana gambar diatas, dan ada pula yang lainnya menggambarkan beberapa identitas organisasi partai politik.

Pohon Beringin “Pangauban Qolbu”

Tulisan tentang bendera sebelum pecah menjadi 2 negara

Namun yang paling mencengangkan, terdapat asal muasal bendera negara yang terdapat dibelahan Benua Eropa yaitu Inggris dan Jerman. Kalimat pada tulisan tersebut menjelaskan tentang keturunan keluarga, sebelum negara tersebut pecah menjadi dua negara.

Itulah sekilas mengenai tulisan leluhur Pajajaran Siliwangi dan masih banyak lagi yang belum sempat diungkap karena keterbatasan waktu perbincangan. Sebab ternyata ada tulisan yang tidak dapat diungkap seolah tabu dan takabur bagi pemiliknya. Dari semua tulisan di atas tersebut, sepintas kilas memang akan bingung dan enteng menarik kesimpulan apa mungkin ?. Tetapi sebelum mengomentari alangkah baiknya meninjau secara langsung. Sehingga diharapkan dengan penjelasan dari pemiliknya, Insya Allah akan memahami sebagaimana yang terkandung maksud dalam tulisan tersebut.

Ulasan tulisan ini hanyalah salah satu upaya penggalian budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia untuk diperkenalkan dan diangkat agar menjadi legalitas warisan budaya Indonesia yang patut dibanggakan dan memperoleh penghargaan. Lebih jauh lagi, agar memelihara dari jangkauan klaim oleh bangsa lainnya. Itulah harapan penulis, kiranya tidak berlebihan jika memuji dan membanggakan hasil kreatifitas, kemampuan dan keahlian bangsa kita sendiri.

Akhirul kalam, kami mengucapkan terima kasih dan syukur Alhamdulillah tulisan ini dapat izin pemiliknya untuk dipublikasikan.

Sabtu, 25 Desember 2010

Lemot pisan euy...

Parah euy...udah lemot mahal lagi. Itulah koneksi internet dng operator seluler di Indonesia..

perihal: Yahoo! Indonesia (lihat di Google Wikipinggir)

Minggu, 19 Desember 2010

Photo Competition-blue gaz


i blue gaz®
Photo Competition

Caranya :
  • Kirimkan Photo yang bertema “Aman dan Nyaman Memasak bersama blue gaz® yang dicetak berwarna ukuran 4R
  • Tuliskan judul Photo dan pengalaman singkat Anda bersama blue gaz® dan Nomor Handphone yang dapat dihubungi di belakang Phot
  • Isi Photo memuat minimal 2 orang anggota keluarga dan produk blue gaz®
  • Sertakan 2 segel refill tabung gas blue gaz® beserta Photocopy identitas yang masih berlaku
  • Masukkan ke dalam Box Promo di dalam amplop tertutup yang ada di Pengecer Resmi blue gaz® terdekat

Periode “Photo Competition”

15 Desember 2010 – 31 Januari 2011

Pengumuman Pemenang pada tanggal 15 Maret 2011

Melalui Poster di

Pengecer Resmi blue gaz®


Syarat dan Ketentuan:
  • Photo tidak pernah di publikasikan
  • Peserta hanya diperbolehkan mengirim 1 amplop per keluarga
  • Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat
  • Photo yang telah dikirim, menjadi hak milik PT. Blue Gas Indonesia dan berhak menggunakan sebagai media promosi blue gaz®
  • Program promosi ini tidak dikenakan biaya
  • Program ini tidak berlaku untuk seluruh karyawan dan mitra PT. Blue Gas Indonesia beserta keluarga

Kriteria Penilaian:
  • Isi Photo sesuai dengan tema “Aman dan Nyaman Memasak bersama blue gaz®
  • Memenuhi syarat dan ketentuan
  • Kreativitas dalam penulisan pengalaman singkat dan hasil Photo original (bukan hasil editing)
  • Hanya menampilkan produk blue gaz® dan tidak ada produk dari brand/merk lain

Hadiah uang tunai dan voucher:
Miring
1 Hadiah Utama 1 Rp. 10.000.000

1 Hadiah Utama 2 Rp. 7.500.000

1 Hadiah Utama 3 Rp. 5.000.000

1 Hadiah Harapan 1 Rp. 3.000.000

1 Hadiah Harapan 2 Rp. 2.000.000

1 Hadiah Harapan 3 Rp. 1.000.000

2000 Hadiah Hiburan @ Voucher 2x Refill

Pajak pemenang ditanggung oleh PT. Blue Gas Indonesia

PT. Blue Gas Indonesia – Customer Care:

Jakarta (021) 48702030, Bandung (022) 7511994,

Surabaya (031) 7484652, Malang (0341) 8445544, Semarang (024) 70742266

email: peduli-pelanggan@bluegaz.co.id ~ sms center: 0813-800-888-33

Minggu, 07 November 2010

Perangkat Keras STDI

Hardware merupakan perangkat keras secara fisik dalam sentral STDI yang didesain secara modular sehingga memungkinkan sentral STDI terpusat, tetapi proses kerjanya didistribusikan ke beberapa processor dibawah koordinasi Central Processor. Sehinnga modifikasinya mudah untuk dilaksanakan. Arsitektur Hardware STDI dikembangkan dari perangkat DLU/LTG, SN dan CONC.
Perangkat sentral digital STDI terdiri dari 3 bagian utama, yaitu :
1. Line/Trunk Group (LTG)
2. Switching Network (SN)
3. Coordination Processor (CP)



Setiap bagian utama tersebut dibagi lagi kedalam beberapa blok-blok fungsional yang masing-masing dikontrol oleh microprocessor tersendiri. Selain dari ketiga bagian utama tersebut, ada pula bagian lain yang akan dibahas bersama-sama dengan ketiga perangkat utama sentral STDI tersebut.

I. Organisasi Hardware
1.1 Digital Line Unit (DLU)
Hardware (perangkat keras) dari suatu sentral terdiri dari kombinasi beberapa subsistem yang saling berhubungan. Fungsi dari pembangunan jaringan dipegang oleh DLU dan LTG.
Pelayanan yang dilakukan oleh Digital Line Unit adalah :
- Saluran pelanggan analog
- Saluran pelanggan digital
- PBXs analog
- PBXs digital

DLU dapat digunakan secara lokal tanpa menggunakan sentral atau hanya menggunakan switching antar pelanggan. DLU menghimpun lalulintas pelanggan, dapat diadaptasikan jumlah saluran PDC yang digunakan. DLU dihubungkan dengan dua LTG yang berbeda, unit-unit ini mempunyai fungsi ganda. DLU dihubungkan ke LTG melalui 2 atau 4 Primary Digital Carrier (PDC), 2048 kbps atau 1544 kbps.
PDC membawa pemaikai, pengontrol dan menginformasikan O&M. Untuk transmisi dari pengontrol informasi (signalling, command dan pengiriman pesan)dan menginformasikan O&M diantara DLU dan dua buah LTG, sesuai dengan sistem signalling dari CCIT nomor 7.

Sabtu, 06 November 2010

Main Bola Dihina Anak Belanda


Anda suka sepakbola? Bung Karno juga! Sayang, beda sekarang beda dulu…. Beda Anda, beda Bung Karno. Jika Anda bisa bermain sepakbola kapan saja (bahkan di mana saja), tidak demikian dengan Bung Karno. Jika sepakbola membangkitkan gairah luar biasa pada diri Anda, sebaliknya bagi Bung Karno. Mendengar dan menyaksikan sepakbola, akan melukai hati Sukarno. Mengapa?

Ini erat terkait dengan diskriminasi di era penjajahan. Orang bumiputera jangan harap bisa bermain sepakbola bersama-sama anak-anak bule. Bung Karno kecil, harus memendam rasa dendam luar biasa. Hatinya berontak demi merasakan ketidak-adilan. “Bagaimana pun, ada permainan di mana seorang anak bangsa Indonesia dari zamanku tidak dapat menunjukkan keahiannya. Misalnya Perkumpulan Sepakbola,” begitu tutur Bung Karno kepada Cindy Adams, penulis biografinya.

Sepandai apa pun Bung Karno menggocek bola, tidak sekali pun ia diberi kesempatan menjadi ketua perkumpulan. Sekali-kalinya diizinkan bermain bersama, ia tak lebih menjadi bulan-bulanan anak-anak Belanda. Dilecehkan, dimaki, dicerca… bahkan diludahi. Karenanya, Bung Karno tidak pernah lama bergabung dalam Perkumpulan Sepakbola pada zamannya.

Bung Karno ingat betul, bagaimana anggota Perkumpulan Sepakbola di sekolah ILS (Inlandsche School) Mojokerto itu menunjukkan sikap tidak sukanya kepada Bung Karno. Maklumlah, sebagian besar anggota Perkumpulan Sepakbola memang anak-anak Belanda, yang merasa bermain lebih baik dan memandang rendah kemampuan para bumiputera, termasuk Bung Karno. Pendeknya, anak-anak inlander tidak ada yang bertahan lama di Perkumpulan Sepakbola itu.

Karenanya, sepakbola selalu mengingatkan Bung Karno pada pengalaman lahit yang membekaskan luka yang dalam di dalam hati. Anak-anak Belanda dengan pongahnya berdiri di kedua sisi pintu masuk lapangan sambil berteriak, “Hei… kauuu… Bruine… Hei, anak kulit coklat goblok yang malang… Bumiputera… inlander… anak kampung…. Hei, kamu lupa memakai sepatu…..”

Sedangkan, bayi-bayi pirang pun sudah tahu cara meludah kepada inlander…. Begitu mereka lepas dari kain-bedong orok, itulah pengajaran pertama yang diberikan para orangtuanya. Meludah kepada inlander… mencemooh… menganggap rendah… menilai hina-dina…. kepada bangsa Indonesia!

Karena tumbuh di masa penjajahan itu, barangkali yang membuat Bung Karno kurang bisa memaksimalkan kemampuan bermain sepakbolanya. Tapi yang jelas, ia tahu betul bagaimana membentuk tim sepakbola nasional yang mampu berprestasi di tingkat dunia.

Tim PSSI pada era Bung Karno sangat membanggakan. Contoh, pada lawatannya tahun 1954 ke berbagai negeri Asia (Filipina, Hongkong, Thailand, Malaysia) PSSI hampir menyapu seluruh kesebelasan yang dijumpai dengan gol menyolok. Dari 25 gol (dan PSSI hanya kemasukan 6 gol) 19 di antaranya lahir dari kaki Ramang.

Indonesia masuk dalam hitungan kekuatan bola di Asia. Satu demi satu kesebelasan Eropa mencoba kekuatan PSSI. Mulai dari Yugoslavia yang gawangnya dijaga Beara (salah satu kiper terbaik dunia waktu itu), klub Stade de Reims dengan si kaki emas Raymond Kopa, kesebelasan Rusia dengan kiper top dunia Lev Jashin, klub Locomotive dengan penembak maut Bubukin, sampai Grasshopers dengan Roger Vollentein.

Sejumlah pemain sepakbola kita waktu itu adalah Ramang sanga penyerang lincah, Maulwi Saelan, Rasjid, Chaeruddin, Ramelan, Sidhi, Tan Liong Houw, Aang Witarsa, Thio Him Tjiang, Danu, Phoa Sin Liong, dan Djamiat. Ramang dikenal sebagai penyerang haus gol. Ramang memang penembak lihai, dari sasaran mana pun, dalam keadaan sesulit bagaimana pun, menendang dari segala posisi sambil berlari kencang.

PSSI bahkan pernah mengalahkan RRC dengan 2-0 di Jakarta. Kedua gol itu lahir dari kaki Ramang, satu di antaranya tembakan salto. Itu pertandingan menjelang Kejuaraan Dunia di Swedia, 1958. Pertandingan kedua dilanjutkan di Peking, Indonesia kalah dengan 3-4, sedang yang ketiga di Rangoon (juga melawan RRC) dengan 0-0. Sayang sekali lawan selanjutnya ialah Israeal (yang tak punya hubungan diplomatik dengan Indonesia) maka PSSI terpaksa tidak berangkat.

Klimaks prestasi sepakbola Indonesia juga terjadi di era Bung Karno, yakni PSSI menahan Uni Soviet 0-0 di Olimpiade Melbourne 1956. (roso daras)

Rabu, 03 November 2010

Sukarno "Mentjapai Indonesia Merdeka" (Ringkasan)

Ringkasan "visi-misi" Bung Karno ini berdasarkan “Mencapai Indonesia Merdeka” dalam Ir. Sukarno, Dibawah Bendera Revolusi (Djakarta: Panitya Penerbit Dibawah Bendera Revolusi, 1964), Jilid pertama, cetakan ketiga, hlm. 257-324.

Seperti diungkapkan di bagian awal karya ini, Sukarno menuliskannya di Pangalengan pada 30 Maret 1933. Pangalengan, suatu kota kecil pegunungan di sebelah selatan kota Bandung. “[S]ekembali ... dari ... tournée ... ke Jawa Tengah ... membangkitkan Rakyat sedjumlah 89.000 orang,” Sukarno “berpakansi beberapa hari [di sana] melepaskan kelelahan badan.” Ia sendiri menyebut karyanya ini “risalah”, juga “vlugschrift”, yang dua-duanya berarti karangan ringkas, brosur, pamflet.

Risalah ini ditujukan kepada “orang yang baru mendjejakkan kaki di gelanggang perjoangan”. Agar tidak “terlalu tebal” dan “terlalu mahal”, “hanya garis-garis besar sahaja” yang dikemukakan. “Mitsalnya fatsal ‘Di Seberang Jembatan Emas’ kurang jelas, sehingga akan dipaparkan lebih rinci dalam karya lain.

Di luar pengantar yang tanpa sub-judul, risalah ini terdiri dari 10 sub-judul:
1. Sebab-sebabnya Indonesia Tidak Merdeka
2. Dari Imperialisme-Tua ke Imperialisme-Modern
3. “Indonesia, Tanah Yang Mulya,
Tanah Kita Yang Kaya;
Disanalah kita Berada
Untuk Selama-lamanya” ...
4. “Di Timur Matahari Mulai Bercahaya,
Bangun dan Berdiri, Kawan Semua”...
5. Gunanya Ada Partai
6. Indonesia Merdeka Suatu Jembatan
7. Sana Mau ke Sana, Sini Mau ke Sini
8. Machtsvorming, Radikalisme, Massa-Aksi
9. Diseberangnya Jembatan Emas
10. Mencapai Indonesia-Merdeka!

1. Sebab-sebabnya Indonesia Tidak Merdeka
Risalah mulai dengan menolak tesis “Professor Veth” bahwa Indonesia “tidak pernah merdeka
[...]

dari zaman Hindu sampai sekarang
[...]

Indonesia senantiasa menjadi negeri jajahan: mula-mula jajahan Hindu, kemudian jajahan Belanda.” Namun sejarah menunjukkan yang sebaliknya: “[K]aum yang kuasa di dalam zaman Hindu itu
[...]

tidak terutama sekali kaum penjajah
[...].
Mereka bukanlah kaum yang merebut kerajaan, tetapi mereka sendirilah yang mendirikan kerajaan di Indonesia! Mereka menyusun staat Indonesia, yang tahadinya tidak ada staat Indonesia!” Hubungan kerajaan Indonesia itu dengan Hindustan “bukanlah perhubungan kekuasaan,
[...]

tetapi ialah perhubungan peradaban, perhubungan cultuur.”
[...]

“Negeri Indonesia ketika itu merdeka, – tetapi penduduk Indonesia, Rakyat-jelata Indonesia, Marhaen Indonesia ... tidak pernah merdeka.” Namun begitulah nasib semua rakyat jelata di seluruh dunia, bukan hanya di Indonesia. Mereka “diperintah oleh raja-rajanya secara feodalisme: Mereka hanyalah menjadi perkakas sahaja dari raja-raja itu dengan segala bala-keningratannya ...”.

Karena itu sebab-sebabnya Indonesia dijajah, tidak merdeka, harus dicari dalam masa “[t]iga empat ratus tahun yang lalu, di dalam abad keenambelas ketujuhbelas ... ketika “feodalisme Eropah” surut dan diganti dengan “vroeg-kapitalisme”, kapitalisme tua, yaitu timbulnya kelas “pertukangan dan perdagangan, yang giat sekali berniaga di seluruh benua Eropa-Barat.” Kelas kapitalis ini semakin kuat sampai dapat mencapai “kedudukan kecakrawartian”, kuasa pemerintahan. Segera Eropa menjadi sempit bagi kapitalisme tua itu, sehingga “timbullah suatu nafsu, suatu stelsel” untuk menguasai “benua-benua lain, – terutama sekali di benua Timur, di benua Azia!” Itulah “imperialisme”.

Sementara itu “... masyarakat Indonesia khususnya, masyarakat Azia umumnya, pada waktu itu kebetulan sakit”, maksudnya “suatu masyarakat ‘in transformatie’ ..., yang sedang asyik ‘berganti bulu’: “[dari] feodalisme-kuno” atau “feodalisme Brahmanisme” ke “feodalisme-baru, feodalismenya ke-Islam-an, yang sedikit lebih demokratis ...”. Masa ‘berganti bulu” itu tercermin antara lain dalam “pertempuran antar Demak dan Majapahit, atau Banten dan Pajajaran”. Pertempuran-pertempuran itu “membikin badan masyarakat menjadi ‘demam’ dan menjadi ‘kurang-tenaga’, dan lambat-laun dikalahkan oleh kapitalisme-tua Eropa melalui nafsu imperialismenya.

2. Dari Imperialisme-Tua ke Imperialisme-Modern
“Tahukah pembaca bagaimana mekarnya imperialisme itu, ... dari imperialisme-kecil menjadi imperialisme raksasa
[...,]

dari imperialisme-tua menjadi imperialisme modern?” Untuk itu pembaca perlu tahu lebih dulu bahwa “[i]mperialisme adalah anaknya kapitalisme. Imperialisme-tua dilahirkan oleh kapitalisme-tua, imperialisme-modern dilahirkan oleh kaitalisme-modern. [Namun] [w]ataknya kapitalisme-tua adalah berbeda besar dengan wataknya kapitalisme-modern.
[...]

Maka imperialisme-tua yang dilahirkan oleh kapitalisme-tua itu, – imperialismenya [VOC] dan ... [Tanam Paksa] – ... niscayalah satu watak dengan ‘ibunya’, yakni watak-tua, watak-kolot, watak-kuno.”

Watak kuno imperialisme-tua itu “menghantam ke kanan dan ke kiri, [menjalankan] stelsel monopoli dengan kekerasan dan kekejaman ... mengadakan sistim paksa ..., membinasakan ribuan jiwa manusia, menghancurkan kerajaan-kerajaan ..., membasmi milliunan tanaman cengkeh dan pala .... Ia melahirkan aturan contingenten [pajak berupa hasil bumi] dan leverantien [hak monopoli beli hasil bumi] yang sangat berat dipikulnya oleh Rakyat
[...].”

“Tetapi lambat-laun di Eropah modern-kapitalisme mengganti vroeg-kapitalisme yang sudah tua-bangka. Paberik-paberik, bingkil-bingkil, bank-bank, pelabuhan-pelabuhan , kota-kota industri timbullah seakan-akan jamur di musim dingin, dan tatkala modern-kapitalisme ini sudah dewasa, maka modal-kelebihannya alias surpluskapital-nya lalu ingin dimasukkan di Indonesia ...”. Mereka tidak sabar menunggu di pintu gerbang Indonesia. Mereka memekik dengan semboyan-semboyan seperti kebebasan buruh, kebebasan menyewa tanah, persaingan bebas. “Dan akhirnya, pada kira-kira tahun 1870, dibukalah pintu gerbang itu!” Maka masuklah “modal-partikelir di Indonesia, – mengadakan paberik-paberik gula di mana-mana, kebon-kebon teh di mana-mana, onderneming-onderneming tembakau di mana-mana, dan lain sebagainya ...”.

“Cara pengambilan [rezeki dengan jalan monopoli] berobah, sistimnya berobah, wataknya berobah, tetapi banyakkah perobahan bagi Rakyat Indonesia? Banjir harta yang keluar dari Indonesia bukan semakin surut, tetapi malahan makin besar, drainage Indonesia malahan makin [besar].” Maka sejak “adanya opendeur politiek [politik pintu terbuka] di dalam tahun 1905, maka modal yang boleh masuk ke Indonesia dan mencari rezeki di Indonesia bukanlah lagi modal Belanda sahaja, tetapi juga modal Inggeris, juga modal Amerika, juga modal Jepang, juga modal Jerman, juga modal Perancis, juga modal Italia, juga modal lain-lain, sehingga imperialisme di Indonesia kini adalah imperialisme yang internasional karenanya. Raksasa ‘biasa yang dulu ... kini sudah menjadi raksasa Rahwana Dasamuka yang bermulut sepuluh!”

Drainase itu digambarkan dengan perbandingan antara ekspor dan impor untuk 1924-1930. Rata-rata jumlah ekspor/tahun f 1.527.799.571, sedang rata-rata jumlah impor/tahun f 875.917.143. Jadi rata-rata rasio ekspor dan impor adalah 174/100, sedang rasio tertinggi 226/100 dan terendah 135/100. “Sedang bandingannya ekspor/impor di negeri-negeri jajahan yang lain-lain ada ‘mendingan’, [dan] bandingan itu di dalam tahun 1924: Afrika Selatan 119/100; Filipina 123/100; India 123/100; Mesir 129/100, Sri Lanka 133/100. “[M]aka buat Indonesia, ia menjadi yang paling celaka
[...]”.

Sebanyak 75 persen nilai ekspor itu berasal dari “delapan macam hatsil onderneming landbouw” atau hasil pertanian yang sangat dekat dengan kepentingan rakyat.

Untung bersih bagi semua onderneming itu rata-rata f 515.000.000/tahun, “lima ratus limabelas milliun rupiah setahun, dan ini adalah 9% á 10% dari mereka punya modal-induk!”, sedang “bagi Marhaen, yang membanting tulang dan berkeluh-kesah mandi keringat bekerja membikinkan untung sebesar itu, rata-rata di dalam zaman ‘normal’ [sebelum meleset] ta’ lebih dari delapan sen seorang sehari ...”

3. “Indonesia, Tanah yang Mulya ...”
Marhaen dapat “ta’ lebih dari delapan sen seorang sehari. Dan ini pun bukan hisapan-jempol kaum pembohong, bukan hasutannya kaum penghasut, bukan agitasinya pemimpin-agitator.
[...]

Memang hanya orang munafik dan durhaka sahajalah yang tak’ berhenti-henti berkemak-kemik: ‘Indonesia sejahtera. Rakyatnya kenyang-senang.”
[...].

Kenyataan ini “ta’ dapat dibantah lagi. Dr Huender telah mengumpulkan angka-angka[nya]. [...] Ia membagi pendapatan Kang Marhaen itu dalam tiga bagian: ... dari padinya, ... dari palawijanya, ... dari perkuliannya bilamana Marhaen tengan ‘vrij’”.
[...]

“En toch, barangkali risalah ini dibaca oleh fihak ‘twijvelaars’ alias fihak ‘ragu-ragu’ di kalangan kita punya intellectuelen yang karena terlampau kenyang ‘cekokan kolonial’ tidak percaya bahwa Marhaen papa-sengsara?” Cara manjur melenyapkan keraguan mereka itu adalah menganjurkan mereka pergi ke kalangan Marhaen sendiri, lalu melihat dengan mata kepala sendiri. Boleh juga periksa “perkataan Professor Boeke yang berbunyi, bahwa hidupnya bapak tani adalah hidup ‘ellendig’, hidup yang sengsara keliwat sengsara’”. Boleh juga buka “surar-surat chabar [...] dan mengumpulkan ‘syair megatruh’ [...] yang melagukan betapa hidupnya Kang Marhaen yang ... sudah ‘sekarang makan besok tidak’ itu”.
[...]

“O, Marhaen, hidupmu sehari-hari morat-marit” tapi “kamu boleh menyanyi: Indonesia,Tanah Yang Mulya/ Tanah Kita Yang Kaya/ Disanalah kita Berada/ Untuk Selama-lamanya."

4. “Di Timur Matahari Mulai Bercahaya,"
“Tetapi hal-hal yang saya ceritakan di atas ini hanyalah kerusakan lahir sahaja. Kerusakan bathin pun ternyata [timbul] di mana-mana. Stelsel imperialisme yang butuh pada kaum buruh itu, sudah [menyelewengkan] semangat kita menjadi semangat perburuhan ... yang hanya senang jikalau bisa menghamba. Rakyat Indonesia sediakala terkenal sebagai Rakyat yang gaga-berani ..., yang perahu-perahunya melintasi lautan dan samodra ..., kini terkenal sebagai ‘het zachtste volk der aarde’, ‘Rakyat yang paling lemah-budi di seluruh muka bumi’. Rakya Indonesia itu kini menjadi Rakyat yang hilang kepercayaannya pada diri sendiri, hilang keperibadiannya
[...]”.

Itu pun “belum bencana bathin yang paling besar! Bencana bathin yang paling besar ialah bahwa Rakyat Indonesia itu percaya bahwa ia memang adalah ‘Rakyat-kambing’ yang selamanya harus dipimpin dan dituntun”. Rakyat seperti itu percaya saja semboyan imperialisme bahwa mereka datang di Indonesia bukan untuk cari rezeki, malainkan datang membawa “’maksud suci’ ... ‘mission-cacrée’ [untuk mencapai] ‘beschaving’ dan ‘orde en rust’, – ‘[peradaban]’ dan ‘[ketertiban] umum’.”

Namun semua itu “hanyalah omong-kosong belaka”, dan kita akan binasa kalau terus percaya omong-kosong tersebut, ‘dan pantas binasa di dalam lumpur penghinaan dan nerakanya kegelapan.
[...]

Tetapi ... Alhamdulillah, di Timur matahari mulai bercahaya, fajar mulai menyingsing! Obat tidur imperialisme yang berabad-abad kita minum ... perlahan-lahan mlai kurang dayanya. [...] Berabad-abad kita sudah lembek hingga seperti kapuk dan agar-agar. Yang [kita] butuhkan kini ialah otot-otot yang kerasnya sebagai baja, urat-urat-syaraf yang kuatnya sebagai besi, kemauan yang kerasnya sebagai batu-hitam ... dan jika perlu, berani terjun ke dasarnya samodra!”

Fajar menyingsing itu adalah pergerakan kebangsaan kita. “Pergerakan memang bukan tergantung [pada] seorang pemimpin ..., pergerakan adalah bikinannya nasib kita yang sengsara. [Pergerakan] pada hakekatnya adalah usaha masyarakat sakit yang mengobati diri sendiri.
[...]

Oleh karena itulah kita harus mempunyai [...] pergerakan yang ... cocok dan sesuai dengan hukum-hukumnya masyarakat dan terus menuju ke arah doelnya masyarakat, ya’ni masyarakat yang selamat dan sempurna.
[...].

Haibatkanlah pergerakanmu menjadi pergerakan yang bewust dan insyaf, yang karenanya akan menjadi haibat sebagai tenaganya gempa. Fajar mulai menyingsing. Sambutlah fajar itu dengan kesadaran, dan kamu akan segera melhat matahari terbit."

5. Gunanya Ada Partai
“Kita bergerak karena kesengsaraan kita, kita bergerak karena ingin hidup yang lebih layak dan sempurna. Kita bergerak tidak karena ‘ideal’ saja ... [tapi] karena ingin perbaikan nasib [di segala bidang].” Namun, perbaikan nasib “hanyalah bisa datang seratus prosen, bilamana masyarakat sudah tidak ada kapitalisme dan imperialisme.
[...]

Oleh karena itu ... pergerakan kita itu ... yang ingin merobah samasekali sifatnya masyarakat ... yang samasekali ingin menggugurkan stelsel imperialisme dan kapitalisme. Pergerakan kita janganlah hanya ... ingin rendahnya pajak, ... tambahnya upah, janganlah hanya ingin perbaikan-perbaikan kecil yang bisa tercapai hari sekarang ...”.
Perubahan yang begitu besar harus “dibarengi dengan gemuruhnya banjir pergerakan Rakyat-Jelata. [...].

Kita pun harus menggerakkan Rakyat-jelata di dalam suatu pergerakan radikal yang bergelombangan sebagai banjir, menjelmakan pergerakan massa yang tahadinya onbewust dan hanya raba-raba itu menjadi suatu pergerakan massa yang bewust dan radikal, ya’ni massa-aksi yang insyaf akan jalan dan maksud-maksudnya.”
“Welnu, bagaimanakah kita bisa menjelmakan pergerakan ... yang bewust dan radikal? Dengan suatu partai! Dengan suatu partai yang mendidik Rakyat-jelata itu ke dalam ke-bewest-an dan keradikalan.” [...].

Partai yang demikian ... bukan partai burjuis, bukan partai ningrat, bukan ‘partai-Marhaen’ yang reformistis, bukan pun ‘partai radikal’ yang hanya amuk-amukan sahaja, – tetapi partai-Marhaen yang radikal yang tahu saat menjatuhkan pukulan-pukulannya.”

6. Indonesia Merdeka Suatu Jembatan
Dengan partai seperti itulah pergerakan kebangsaan mencapai maksudnya: “suatu masyarakat yang adil dan sempurna, yang tidak ada tindasan dan hisapan, yang tidak ada kapitalisme dan imperialisme. [...].

Dan syarat yang pertama untuk menggugurkan stelsel kapitalisme dan imperialisme ... ialah: k i t a h a r u s m e r d e k a. Kita harus merdeka, agar supaya kita bisa leluasa bercancut-tali-wanda menggugurkan stelsel kapitalisme dan imperialisme. Kita harus merdeka, supaya kita bisa leluasa mendirikan suatu masyarakat-baru yang tiada kapitalisme dan imperialisme. [...]. Dapatkah Ramawijaja mengalahkan Rahwana Dasamuka, jikalau Ramawijaya itu [masih] terikat kaki dan tangannya ...?”

Syarat kedua, “mengikhtiarkan kemerdekaan nasional”, kaum Marhaen “j u g a h a r u s m e n j a g a j a n g d i d a l a m k e m e r d e k a a n – n a s i o n a l i t u k a u m M a r h a e n l a h j a n g m e m e g a n g k e k u a s a a n, – bukan kaum burjuis Indonesia, bukan kaum ningrat Indonesia, bukan musuh kaum-Marhaen.
[...].

Adakah dus saya kini mengutamakan klassenstrijd [pertentangan kelas]? Saya belum mengutamakan klassenstrijd antara bangsa Indonesia dengan bangsa Indonesia, walau pun tiap-tiap nafsu kemodalan di kalangan bangsa sendiri kini sudah saya musuhi. Saya seorang nasionalis ... selamanya menganjurkan supaya semua tenaga nasional yang bisa dipakai menghantam musuh untuk mendatangkan kemerdekaan-nasional itu, haruslah dihantamkan pula.”

“‘De sociale tegenstellingen worden in onvrije landen in nationale vormen uitgevochten’, ‘pertentangan sosial di negeri-negeri yang ta’ merdeka diperjoangkan secara nasional’, begitulah juga Henriette Roland Holst berkata. Tetapi kemerdekaan-nasional hanyalah suatu jembatan, suatu syarat, suatu strijdmoment. Di belakang Indonesia Merdeka itu kita kaum Marhaen masih harus mendirikan kita punya Gedung Keselamatan, bebas dari tiap-tiap macam kapitalisme.” Jadi, syarat ketiga adalah: kesadaran bahwa kemerdekaan nasisonal hanyalah jembatan emas.

7. Sana Mau ke Sana, Sini Mau ke Sini
“Tapi sekarang timbul pertanyaan: bagaimana kita [memenuhi] ... tiga [syarat] itu?”
“[K]ita lebih dulu harus mengetahui hakekatnya kedudukan antara imperialisme dan kita, hakekat kedudukan antara s a n a dan s i n i.” Inilah yang menentukan “azas-azas perjoangan kita, ... strategi kita, ... taktik kita ... ‘houding’ [sikap] kita terhadap ... kaum sana itu ...”

Hakekat “kedudukan” itu “boleh kita gambarkan dengan satu perkataan sahaja: p e r t e n t a n g a n. Pertentangan di dalam segala hal.
[...]

Tidak ada persesuaian antara sana dan sini. Antara sana dan sini ada pertentangan sebagai api dan air, sebagai serigala dan rusa, sebagai kejahatan dan kebenaran.” Inilah “yang oleh kaum Marxis disebutkan d i a l e k t i k-nya sesuatu keadaan ...” Pertentang sana dan sini berada dalam dialektik itu, yang disebut “ber-antitese”.

Dialektik ini “menyuruh kita selamanya ... t i d a k b e k e r j a [s a m a] terhadap ... kaum sana itu, – s a m p a i kepada saat keunggulan dan kemenangan.
[...]

kemenangan hanyalah bisa kita capai dengan kebiasaan s e n d i r i, tenaga s e n d i r i, usaha s e n d i r i.
[...].

Inilah yang biasanya kita sebutkan politik ‘p e r c a y a p a d a k e k u a t a n s e n d i r i’, politik ‘s e l f – h e l p dan n o n – c o o p e r a t i o n'.”

8. Machtsvorming, Radikalisme, Massa-Aksi
Selain membawa kita ke “politik selfhelp dan non-cooperation”, dialektika tadi juga membawa kita “ke dalam kawah candradimukanya politik machtsvorming, radikalisme dan massa-aksi.”

Machtsvorming “adalah ... pembikinan kuasa ... jalan satu-satunya untuk memaksa kaum sana tunduk kepada kita.” Jalan satu-satunya, karena “’nooit heeft een klasse vrijwillig van haar bevoorrechte positie afstand gedaan”, begitulah Karl Marx berkata ... ‘Ta’ pernahlah sesuatu kelas suka melepaskan hak-haknya dengan ridlanya kemauan sendiri’.”

“Radikalisme” berarti menggunakan “machtsvorming” kita, bukan “kepandaian putar lidah, bukan kepandaian menggerutu dengan hati dendam terhadap kaum sana.” Dengan kata lain, “[t]iap-tiap kemenangan kita, dari yang besar-besar sampai yang kecil-kecil, adalah hatsilnya d e s a k a n dengan kita punya tenaga. Oleh karena itu ‘teori’ dan ‘prinsip’ sahaja buat saya belum cukup. Tia-tiap orang bisa menutup dirinya di dalam kamar, dan menggerutu ‘ini tidak menurut teori’, ‘itu tidak menurut prinsip’. Saya tidak banyak menghargakan orang yang demikian itu. Tetapi yang paling sukar ialah, di muka musuh yang kuat dan membuta-tuli ini, menyusun suatu m a c h t yang terpikul oleh suatu prinsip. Keprinsipiilan dan keradikalan zonder machtsvorming yang bisa menundukkan musuh di dalam perjoangan yang haibat, bolehlah kita buang ke dalam sungai Gangga. Keprinsipiilan dan keradikalan yang menjelmakan kekuasaan, itulah kemauan Ibu!”

9. Diseberangnya Jembatan Emas
“Adakah Indonesia-Merdeka bagi Marhaen menentukan hidup-kemanusiaan yang [leluasa dan sempurna, ... yang secara manusia dan selayak manusia]? Indonesia-Merdeka sebagai saya katakan di atas, adalah menjanjikan tetapi belum pasti menentukan bagi Marhaen hidup kemanusiaan yang demikian itu.” Yang menjanjikan itu “barulah menjadi ketentuan, kalau Marhaen sedari sekarang sudah insyaf seinsyaf-insyafnya bahwa Indonesia-Merdeka hanyalah suatu jembatan, – sekali pun suatu jembatan emas!– yang harus dilalui dengan segala keawasan dan keprajinaan, jangan sampai di atas jembatan itu Kereta-Kemenangan dikusiri oleh lain orang selainnya Marhaen.”

Satu calon kusir ialah “kaum ningrat” dengan “nasionalisme-keningratan” mereka. “Mereka masih hidup dalam keadaan feodalisme
[...]

yang biasanya setia sekali pada kaum yang di atas ... Tetapi menurut cita-citanya di dalam Indonesia-Merdeka itu merekalah yang harus menjadi ‘kepala’ ... yang sejak zaman purbakala, sejak feodalisme Hindu dan sejak feodalisme ke-Islam-an toch sudah menjadi ‘pohon beringin’ yang melindungi kaum ‘kawulo’”. Calon kusir lain ialah “nasionalisme-keborjuisan” milik kaum modal, industri, kaum berpunya. Dua-duanya memuja individualisme, yang menjerumuskan Marhaen ke lembah demokrasi politik belaka.

Terhadap mereka ini Marhaen mengajukan demokrasi berdasarkan “gotong royong”, dalam bentuk “sosio-demokrasi” dan “sosio-nasionalisme”. “Dengungkanlah sampai melintasi tanah-datar dan gunung dan samodra, bahwa Marhaen di seberangnya jembatan-emas akan mendirikan suatu masyarakat yang tiada keningratan dan tiada keborjuisan, tiada kelas-kelasan dan tiada kapitalisme.”
“Bagahialah partai-pelopor yang demikian itu!
“Bahagialah massa yang dipelopori partai yang demikian itu!
“Hiduplah sosio-nasionalisme dan soio-demokrasi!”

10. Mencapai Indonesia-Merdeka!
“Sekarang, kampiun-kampiun kemerdekaan, majulah ke muka, susunlah pergerakanmu menurut garis-garis yang saya guratkan di dalam risalah ini. Haibatkanlah partainya Marhaen, agar supaya menjadi partai pelopornya massa. Haibatkanlah semua semangat yang ada di dalam dadamu, haibatkanlah semua kecakapan-mengrorganisasi yang ada di dalam tubuhmu, haibatkanlah semua keberanian banteng yang ada di dalam nyawamu
[...].”

“Hidupkanlah massa-aksi, untuk mencapai Indonesia-Merdeka!”■

Selasa, 02 November 2010

Film-film Kegemaran Bung Karno dan Eisenhower

Kunjungan Presiden Sukarno ke Amerika Serikat tahun 1956, sejatinya merupakan kunjungan penting, terkait sikap bebas-aktif, sikap non-blok Indonesia. Akan tetapi, justru sikap itu yang berakibat Amerika memusuhi Sukarno (baca: Indonesia). Sebab, ketika Sukarno menyampaikan wacana non-blok kepada Menlu John Foster Dulles, tampak bahwa Dulles tidak sependapat.

Kepada Bung Karno yang melilih tidak berkiblat ke Amerika maupun ke Uni Sovyet, Dulles berkata tajam, “Politik Amerika bersifat global. Suatu negara harus memilih salah satu pihak. Aliran yang netral adalah imoral.” Betapa Sukarno dan Indonesia dituding tidak bermoral oleh Amerika, hanya karena sikapnya yang tidak mau ngeblok ke Barat maupun ke Timur.

Tak ayal, suasana pembicaraan resmi Bung Karno dengan Presiden Eisenhower pun menjadi tidak produktif. Sebab, landasan pembicaraan keduanya memang bukan landasan yang mulus atas dasar kesamaan sikap, kesamaan blok. Alhasil, di antara deretan pembicaraan yang panjang, yang Bung Karno ingat justru obrolan tentang film-film kegemaran keduanya.

Seperti ditulis Cindy Adams, dialog Bung Karno (BK) dan Eisenhower (E) sebagai berikut:

E: Saya dengar Tuan senang melihat film, Presiden Sukarno. Sekali berapa hari Tuan menyaksikannya?

BK: Tiga kali seminggu di Istana.

E: Tuan tahu berapa kali saya melihatnya?

BK: Tidak. Berapa kali Tuan melihatnya, Presiden Eisenhower?

E: Saban malam. Film apa yang Tuan gemari, Presiden Sukarno?

BK: Cerita pengalaman, sejarah, dan biografi.

E: O begitu? Nah, kesenangan saya cuma film koboi. Dan saya bertaruh, Tuan tidak dapat menerka siapa yang menjadi bintang kesayangan saya.

BK: Saya tidak tahu. Siapa?

E: Randolph Scott.

Begitulah dialog kedua Presiden. Sebuah gambaran, betapa sebenarnya antara Bung Karno dan Eisenhower sudah tidak ada kesepakatan membicarakan hal-hal strategis mengenai hubungan kedua negara. Meski begitu, Bung Karno tetap mencekokkan sikap politiknya, sikap politik bangsanya, sikap politik negarnya kepada Eisenhower, kepada Amerika Serikat.

Salah satu pesan tajam Bung Karno kepada Eisenhower adalah, “Sebagai sahabat yang bijaksana dan lebih tua, Amerika memberi kami nasihat, itu bisa. Akan tetapi mencampuri persoalan kami, jangan. Kami telah menyaksikan Kapitalisme dan Demokrasi Barat pada orang Belanda. Kami tidak mempunyai keinginan untuk memakai sistem itu. Kami akan menumbuhkan suatu cara baru yang hanya cocok dengan kepribadian kami. Ia bukanlah barang yang bisa diekspor keluar, tetapi sebaliknya kami tidak terma barang impor berupa ajaran-ajaran yang mengikat.”

Sukarno… presiden negara kecil yang baru merdeka, yang sebagian besar rakyatnya masih bodoh-bodoh, yang baru saja lepas dari penjajahan ratusan tahun… berani-beraninya berbicara lantang kepada Eisenhower, Presiden Negara Adi Kuasa Amerika Serikat… mbahnya Kapitalisme dan Demokrasi Liberal….

Lihat akibatnya… sejak itu, sederet dan serentet percobaan pembunuhan terhadap dirinya terus dan terus terjadi. (roso daras)
**Catatan Kids-Marhaenis Budi widaya @Facebook